Jumat, 21 Januari 2022

Acropolis Bercerita

 

Athena 2015

"Bagaimana sebuah negara yang berdiri di atas kepentigan rakyatnya dapat berakhir pada keruntuhan?" Ini adalah pertanyaan yang terngiang-giang di kepalaku saat kami mulai menapak anak tangga menunggu pusat kota Athena di masa lampau 'Acropolis'. Semuah maha karya dimana ide Aristoles murid Plato mencetuskan ide 'demos' dan 'kratos' sebuah sistem pemerintahan yang berkembang dan kini diadopsi oleh sebagian negara. 

Pilar-pilar besar dihiasi patung-patung yang terukir halus masih berdiri kokoh menopang beberapa reruntuhan kota. Kemegahannya tidak pudar hingga ribuan tahun, membuat kita semakin yakin bahwa kota ini di bangun di atas ide dan mimpi yang sangat besar dan abadi. 

Angin kencang di bukit tempat berdirinya situs bukti kejayaan rakyat Athena di masa lalu, seakan mereprestasikan keriuhan rakyat di masa itu. Namun, kini digantikan derasnya pengunjung berdatangan yang juga ingin menjadi saksi kemegahannya. 

Semakin takjub rasanya ketika aku tersadar bahwa nama negeriku 'Indonesia' berasal dari bahasa Yunani yang apabila diartikan secara literal berarti 'Kepulauan Hindia". Masyarakat lokal pun ikut tersanjung saat mereka tahu bagaimana bangsa kita masih meyebut mereka dengan sebuta "Yunani" atau berarti 'Bangsa Yunan', yaitu momen kejayaan negeri mereka pada masa sebelum mereka kembali menyebut diri mereka sebagai 'Hellas'. 

Budaya berlayar menjelajah dunia, dicontohkan leluhur mereka. Bukan bertujuan untuk menaklukan suatu bangsa, namun lebih pada tujuan berdagang dan pertukaran kebudayaan. Terbukti banyak catatan perjalanan kuno serta gerabah-gerabah yang terpajang di museum mereka menunjukan begitu dekatnya hubungan budaya nusantara dengan bangsa Yunani di masa lalu. 

Dalam hal cara bercocok tanam, bentuk cangkul, bajak, alat penumbuk hasil panen, kuali hingga kendi tempat minum memiliki kesamaan bentuk serta fungsi. Sebuah niat yang luhur telah diperagakan oleh orang-orang di masa lalu. Semangat saling berbagi, komunikasi antar budaya yang semestinya terus digalakan hingga masa sekarang. 

Crete-Athena, 27 November 2015 

Sany

Kamis, 03 Desember 2020

Sarapan Salad apa cukup? ⁣


Pagi-pagi kebiasaan orang Indonesia biasanya langsung pake makanan yang cukup berat, mulai dari nasi bungkus, longtong sayur sampai bubur ayam. Cuman buat orang yang punya asam lambung seperti saya, makan berat di pagi hari bisa jadi perjuangan yang sangat berat, dan hanya orang yang senasib sama seperti saya bisa mengerti kondisi ini. ⁣

⁣Pagi ini, salah racikan @ugh.idn menemani saya pagi ini. Lengkap dengan sumber karbo dari jagung, sumber energi kaya serat dari irisan bawang bombay, kubis ungu, tomat dan lettuce iceberg. Lengkap salah dressing yang kaya protein. Cocok buat saya yang sejak pagi sudah memulai aktifitas di kebun kecil kami. ⁣

Kamis, 05 November 2020

Badai ini Pasti Akan Berlalu ⁣


Pasti kalian rindu saling merangkul, berjabatan tangan, bersua, berbagi cerita dengan sahabat. Namun kondisi yang tidak biasa ini membuat kita harus menjaga jarak satu sama lain. Tapi percayalah ini hanya sementara. ⁣

⁣Belum lagi sebagai pengusaha, ditengah ekonomi yang sedang lesu ini, berusaha untuk terlihat tegar ditengah pandemi ini, bukanlah hal mudah. Tapi percayalah, kita besar karena badai ujian bertubi-tubi menghadang kita, mungkin ini salah satu badai yang harus kita lalui bersama. Semoga kita semua bisa kuat menghadapinya.⁣

Beda Wong Tani, dan ‘Farmers’⁣


2010 hingga akhir tahun 2012 saya berkesempatan melihat banyak daerah di pulau Jawa, dimana sering saya mendengar perkataan “kulo wong tani”. Sedangkan, pada tahun 2013 hingga akhir tahun 2015 saya sempat bertemu dengan orang yang berbeda di benua eropa, yang dengan bangga mengatakan “I’m a farmer”.  Ini sedikit kesan saya, terkait perbedaan dua kalimat dengan arti kata yang sama, namun dengan interpertasi yang berbeda. ⁣

⁣Mereka beragam dalam usia, ada yang muda dan ada yang sudah usia lanjut. Ada yang tinggal di perkotaan, hingga di pedesaan. Ada mereka yang kebutuhannya tercukupi ada juga yang pas-pasan. Namun, mereka memiliki satu persamaan, yaitu mereka menanam tanaman pangan tidak hanya untuk diri mereka sendiri. Ya, mereka adalah seorang Petani.   ⁣

Senin, 11 Maret 2019

Sebenarnya Apa sih Kartu Prakerja?

Once Upon Time in Bonn University
Berikut ini opini saya dari pengalaman yang pernah saya alami:

Kalau ada yang bingung apa itu kartu prakerja itu apa? Sebagai pembanding, di negeri-negeri maju itu sering disebut 'wellfare' policy. Di beberapa negara kartu ini diberikan untuk para pencari kerja atau mereka yang dalam masa tenggang atau 'job seeker', dari pekerjaan sebelumnya ke pekerjaannya yang baru. Tujuan dari kebijakan ini adalah memperkecil jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Bonusnya adalah, pemerataan kesejahteraan di tingkat "grassroot" dan meningkatkan Per capita income (PCI). Karena kultur aristokrat di negeri eropa misalnya, telah membagi masyarakat mereka menjadi beberapa kelas sosial.

Dari mana dananya?? Pastinya Pajak atau sumber pendapatan negara lainnya. di level praktis, di lapangan penerapannya sudah berevolusi sesuai dengan morfologi sosial kemasyarakatan di negara masing-masing. Ada yang dibayarkan dengan sistem gaji yakni di awal dan di akhir bulan. Atau ada yang dibayarkan perminggu bahkan perhari. Bahkan di Amerika, welfare juga bisa diterapkan dengan pembatasan pengeluaran harian per kepala keluarga. Misalkan perhari mereka para kaum 'prakerja' yang berkeluarga dengan dua anak hanya diperbolehkan mengeluaran maximal 10 USD untuk kebutuhan mereka per hari, di 'merchant' tertentu dengan hanya menunjukan kartu tersebut. Contoh ini, penerima wellfare tidak menerima alokasi dana dalam bentuk uang atau sejenisnya, namun akses kebutuhan sehari-hari dengan limit tertentu sesuai dengan track record si calon penerima wellfare. DI level praktek yang lain bahkan ada kebijakan yang menerapkan kebijakan credit bagi penerima wellfare atau ex-penerima wellfare yang dapat mereka bayarkan ketika mereka sudah mendapatkan Gaji di tempat kerja yang baru.

Kamis, 09 Agustus 2018

#Tips Nonton Politik

Sumber foto: tribunnews.com

'menonton' panggung politik itu, jangan 'spaneng', paling enak ditonton sambil makan popcorn atau nyeruput kopi. Bagaimanapun kita hidup di negara demokrasi. Sebagai masyarakat biasa (bukan fungsionaris parpol/politisi), ingat yang harus kita kawal.

Selasa, 07 Agustus 2018

Untuk Wanita Indonesia, Tetaplah Bermimpi!

#WanitaIndonesia

#SiapaBilangGakBisa

Karena saya bilang kamu BISA!


Mengutip dari salah satu penyanyi favorit saya. "Perempuan Indonesia hidupnya berat sekali karena omongan orang lain. Banyak wanita yang terpaksa melupakan mimpi-mimpi mereka karena mereka TAKUT" -Anggun-

Jauh setelah masa Kartini, apakah emansipasi atau kesetraaan gender benar-benar terjadi di Indonesia. Saya berikan contoh, tanpa menyebutkan nama satu per satu teman-teman wanita saya di desa sekitar Kabupaten Tegal. Sangat membekas di ingatan masa kecil saya. Mata mereka berkaca-kaca memaparkan mimpi mereka di depan kelas. Semua profesi terlontarkan waktu itu, wartawan, guru, pramugari, model dokter bahkan seorang seniman.